Rabu, 12 Desember 2018

Menangislah


"Dikatakan awan hitam, sebelum datangnya hujan. Biarlah aku dikutuk dan engkau yang dirayakan. Perjalanan takdir dan kenangan. Berselimut doa hangatnya akan terjaga" Saudade - @kuntoajiw

Kesedihan adalah bagian dari kehidupan, entah mengapa setiap orang membenci bagian itu. Bahkan di akhirat, saya yakin orang-orang masih bisa bersedih. Menangis dan penyesalan, bangkit dan terluka. Menginginkan bahagia dan menolak mentah-mentah kesedihan merupakan kemunafikan orang-orang kurang menikmati dinamika hidup.
Share:

Rabu, 24 Oktober 2018

Hujan dan Gorengan


Minggu ini pekan pertama musim hujan menyapa, isyarat musim kemarau segera angkat kaki. Menyenangkan menghirup tanah lambab, setelah beberapa lama sangat berdebu.

Meski hujan mengurung saya lebih lama dari biasanya di kantor, tetapi masih bisa ditolerir. Orang-orang lagi butuh hujan, biar suasana adem.

Orang-orang makin sensitif. Kata kawan, kalimat simpelnya "senggol bacok". Di jalanan, suara knalpot sama nge-ngasnya dengan kecepatan motor. Ketika antar kendaraan sentuhan dikit karena macet, klakson lagi. Yaela.
Share:

Minggu, 16 September 2018

Saya Ingin Mati di Pelukmu


Banyak orang-orang berjuang atas nama kemanusiaan. Katanya kemanusiaan mampu mengangkat martabat manusia. Sungguh mulia sekali, tetapi saya mau berjuang untuk cinta saja. Berjuang atas dasar kemanusiaan tanpa didasari cinta, kadang mempertaruhkan nurani.

Saya disebut pengecut. Ketika ajakan mereka turun ke jalan saya tolak. Demonstrasi itu bagus, tetapi jalanan bukan panggung orasi. Saya ingin turun tangan bersamamu, menyelesaikan masalah-masalah yang harusnya diselesaikan. Saya ingin menampar dengan aksi nyata, bukan hanya dengan kata-kata.
Share:

Selasa, 21 Agustus 2018

Para Lucknut Penyisa Makanan

Saya bersyukur sampai detik ini masih menjadi perantau, karena itu mengubah beberapa hal dalam hidup saya. Salah satunya adalah selera makan. Merantau nyaris membuat saya bergelar pemakan segalanya.

Saya ingat dulu saya tidak suka tempe, setelah merantau saya lumat segala olahan tempe; mulai dari tempe goreng biasa hingga tempe menjes. Jangankan makanan manusia umumnya, dikoyak sepi pun pernah jadi makanan sehari-hari.

Ada fase dimana, bisa makan saja sudah bersyukur. Hal ini bisa disebabkan beberapa faktor, bamun secara garis besar karena saya hanya mengandalkan kiriman bulanan dari orang tua di tanah rantau. Nominalnya jauh dari kata bisa dipakai foya-foya. Ngepres.

Receh adalah Kehidupan

Saya masih ingat di pondok dulu. Saat itu lebaran idul adha di akhir bulan. Saya tidak mudik karena liburnya hanya beberapa hari. Saya pun tidak kemana-mana, karena menipisnya uang bulanan. Keep calm and keep stay in pondok adalah pilihan terbaik.

Saya percaya diri tinggal di pondok karena ini idul adha, artinya akan ada daging qurban dari pihak warga maupun pesantren untuk para santri yang tidak pulang. Namun, butuh beberapa hari hingga tiba perayaaan itu.

Satu sisi, uang saya tipis dan dapur pesantren libur. Pengelolaan keuangan yang buruk dan ditambah bobroknya kemampuan berkomunikasi untuk ngutang, akhirnya saya benar-benar pailit.
Share: